Proof

large

Source: We Heart It

 

“Adry lebih suka sunrise atau sunset?” tanya Acha pada pemuda di hadapannya, setelah memandangi lama riak-riak ombak air laut yang tampak ikut berubah warna karena pantulan sinar matahari sore. Mereka berdua sedang duduk berhadapan di rooftop sebuah kafe yang menyajikan pemandangan matahari terbenam.

“Lebih suka kamu, sih.” Acha merengut mendengar jawaban Adry, namun ia tak bisa menyembunyikan senyumnya.

“Kirain Adry lebih suka tidur,” tukasnya. Bekerja di perusahaan konsultan IT membuat Adry banyak melewatkan malam-malam sibuk berkutat dengan pekerjaan dan merelakan jam tidur bergeser ke waktu yang tidak tentu. Pola tidur yang berantakan itu malah membuat Acha yang jadi sering senewen. “Jadi yang mana? Matahari terbit atau terbenam?”

Adry berpikir sejenak, yang dimanfaatkan Acha untuk meneguk milkshake cokelat miliknya yang belum tersentuh. “Sunset.” Adry akhirnya memberikan jawaban.

Acha menopang pipinya menggunakan telapak tangan, menjatuhkan pandangan pada kaki langit yang dihiasi semburat jingga. “Kenapa kebanyakan orang lebih suka sunset daripada sunrise? Aku tanya Lea dan Alia jawabannya juga sunset,” ujar Acha.

“Kamu sendiri lebih suka yang mana?” tanya Adry.

Acha memalingkan wajah ke arah Adry. “Suka dua-duanya, tapi jarang ketemu sunrise sih.”

“Mungkin itu alasannya orang-orang lebih suka sunset, karena sunset cenderung lebih mudah ditemukan.”

“Tapi yang lebih susah ditemukan pasti lebih berarti,” gumamnya.

Mereka sama-sama terdiam, memandangi matahari yang semakin tertelan cakrawala.

“Padahal kan, sunset itu semacam salam perpisahan, sebuah akhir, sebelum siang menjadi malam,” Acha membuka suara, ada nada sedih yang terdengar dari sana. “Adry suka sunset, berarti nggak masalah dengan setiap perpisahan?”

“Bukannya tidak masalah, tapi mau tidak mau harus dihadapi juga, kan?”

Acha menghela nafas. Angin darat berhembus menyapu rambut cokelat pendeknya hingga menutupi wajah, ia menyingkirkannya menggunakan tangan. Dulu ia begitu menyukai rambut panjangnya, tapi seiring mobilitas yang meningkat dan kegiatan yang kian memadat, ia akhirnya memutuskan memangkas rambutnya pendek hingga sebatas bahu, ia hanya mempertahankan warna dark brown yang tak pernah berubah sejak dulu.

Selepas kuliah, Acha sempat bekerja di sebuah perusahaan periklanan, sebelum banting setir menjadi event organiser yang mengkhususkan pada acara ulang tahun yang digelutinya dengan sungguh-sungguh bersama beberapa teman SMA. Belakangan, ia disibukkan menjadi wedding organizer sahabatnya, Lea, yang akan menikah dua bulan lagi.

“Kalau begitu, aku akan lebih suka sunrise, karena sunrise adalah sebuah salam pertemuan. Setelah malam yang panjang, datang pagi yang dinanti-nanti.”

“Ada juga lho yang nggak berharap pagi datang.”

Acha dengan impulsif mengecek arloji pergelangan tangan kiri lantas terdiam cukup lama. Perhitungan tentang detik-detik kebersamaan yang tersisa menambah resah yang bergolak di dadanya sejak tadi.

“Aku,” gumamnya pelan kemudian. “Aku nggak mau pagi besok datang, makanya aku nggak mau malam ini datang. Maunya diam di sini saja, sama Adry. Sekarang.”

Kenapa suaranya malah bergetar? Cepat-cepat Acha meneguk minumannya.

“Besok pesawatnya pukul enam, transit di Surabaya, meeting, baru ke Semarang.”

Acha menghela nafas panjang, tapi berhasil menahan diri untuk tidak mengeluarkan komentar; terutama mengeluh. Adry sudah pernah bilang, dan ia tidak akan mungkin lupa. Mereka pada akhirnya akan kembali kerutinitas itu lagi, yang dibatasi jarak, ruang, waktu serta kesibukan.

Ia bukan baru kemarin menjalani ini, seharusnya ia sudah terbiasa. Tapi tetap saja, jika saatnya untuk berpisah tiba, ia seolah tak bisa mengontrol perasaannya sendiri—yang sekuat tenaga ditahannya agar tidak diungkapkan ke Adry.

Acha mengambil ponsel di meja yang sengaja diatur pada mode pesawat, mengabadikan moment matahari terbenam yang indah.

“Acha,” panggil Adry pelan. Perempuan itu menoleh, pelan-pelan ia letakkan ponsel kembali ke meja, mengira Adry menegur karena ia telah melanggar kesepakatan dengan memegang ponsel. Adry meremas tangan Acha yang berada di atas meja. “Segala hal kan punya hubungan timbal-balik. Kalau tidak ada perpisahan, tidak akan ada pertemuan, pun sebaliknya. Mungkin bagi kamu sunset berarti perpisahan, tapi coba lihat, sunset juga bisa jadi bukti bahwa akan selalu ada juga sebuah akhir yang indah.” Adry menyunggingkan senyum tulus yang menguatkan.

Kalimat Adry lebih dari cukup untuk meredakan gejolak di benak Acha. Ia balas tersenyum. Adry benar, tidak semua perpisahan berarti kesedihan, dan akan selalu ada harapan tentang sebuah akhir yang bahagia. Mungkin itu yang membuatnya tetap bertahan.

***

Makassar, 12 April 2017

22:05

No Other’s After Story,

Alamanda Carissa Melfia (Acha)

Reki Adriyano Fiza (Adry)

Categories: Cerpen | Tinggalkan komentar

OUR BLOOD (Part 1)

4c5666b603d66a5f518895eb233e4de4

Part 1

Tuan Riley seharusnya tidak sulit untuk dibunuh. Konglomerat itu muncul di keramaian cukup sering dan kebanyakan menghabiskan waktu luang di kamarnya sendirian. Teknisnya memang terdengar mudah, jika harus mengabaikan fakta bahwa ia selalu dikelilingi oleh sepuluh orang bodyguard-nya yang selalu sigap siaga dan berada di kamar anti peluru serta keamanan yang ketat.

Namun sebagai pembunuh bayaran profesional, bagi Albert, hal-hal seperti itu tidak boleh menjadi hambatan. Menukarkan uang dengan nyawa adalah hal yang sangat biasa, seperti mempertaruhkan kekayaan di meja judi, bisa saja lebih dari itu. Jika menang ia akan mendapatkan kepuasan, jika kalah ia tidak akan kehilangan apa-apa. Memangnya apa lagi yang bisa hilang darinya? Bahkan ia tak pernah merasa bahwa nyawanya berharga. Satu-satunya yang membuatnya bertahan hidup hanyalah dendam di setiap helaan nafas yang mulai mengakar di seluruh tubuhnya, menyebar seperti darah yang jika berhenti maka ialah yang harus mati.

Lamunan Albert mendadak pecah ketika seorang anak yang menggunakan kruk menarik ujung kaosnya, berharap diperhatikan. “Bagaimana menggunakannya?” kata anak itu, ia menjulurkan sebuah darts kepada Albert. Ia menerimanya sambil mengusap kepala anak itu.

Jika yang membuatnya bertahan hidup adalah dendam, maka dorongan dalam diri Albert untuk menjadi seorang volunteer di sebuah panti asuhan anak-anak cacat-lah yang menjadikannya sedikit manusiawi. Di sini ia tidak memikirkan senapan, dendam, darah dan kematian. Di sini ia hanya melihat senyum, pengharapan dan penghargaan. Berada di sini adalah pengecualian bagi prinsip-prinsip kehidupan kotor yang menjeratnya.

Biar aku tunjukkan, Herson.

Albert berdiri sekitar lima meter dari papan darts. Ia membidikkan darts ke papan, lantas dengan satu ayunan pelan, darts itu terlepas dari tangannya menuju target, meleset hanya seinci dari bullseye. Si anak bertepuk tangan kegirangan. Ia berlari mencabut darts itu dari papan. Baru saja ia ingin melemparkan dartsnya ke sasaran di tembok, kerumunan di sekitarnya pecah ruah.

“Clarisse datang! Clarisse datang!”

Awalnya hanya seorang yang berteriak, lantas anak-anak lain mulai berteriak dan berlari menghampiri gadis bernama Clarisse itu.

“Sudah, sudah,” Clarisse mulai menenangkan kerumunan, karena mereka semua memeluk kakinya hingga ia tak bisa berjalan. Yang tak bisa menyentuh Clarisse sebab kerumunan semakin membengkak cukup bahagia dengan memeluk temannya yang lain. “Kalian sedang apa?” Setelah beberapa menit Clarisse akhirnya bisa duduk di karpet, dikelilingi oleh anak-anak yang begitu tertarik pada setiap pergerakannya.

“Aku sedang bermain darts bersama Albert,” jelas Herson. “Kita akan membuat apa hari ini?” tanyanya tidak sabar.

“Albert?” kening Clarisse mengernyit, tapi anak-anak itu tidak akan membuatnya bertanya-tanya terlalu lama. Mereka bersama-sama menunjuk ke arah pintu di mana Albert sedang berdiri dan menatap mereka. “Oh.” Clarisse buru-buru bangkit berdiri. “Halo,” katanya sambil tersenyum dengan ramah.

Albert tadinya hanya ingin melihat siapa orang yang berhasil merebut perhatian yang terfokus padanya dan sempat membuatnya cemburu, namun senyum ramah itu meluruhkan rasa sebalnya hingga tak tersisa. Ia mengerti mengapa anak-anak itu menjadikan Clarisse seperti dewi. Ada bagian diri dari gadis itu yang menjadi magnet, mungkin senyum manisnya atau matanya yang bercahaya, bisa saja suaranya yang merdu atau pembawaannya yang menyenangkan, dan mungkin saja kehadirannya yang terasa menenangkan. Karena Albert yang baru berdiri di sana tidak lebih dari dua menit merasa dirinya seperti sedang berada di ruangan relaksasi. Dan gadis itu terasa begitu familiar.

Halo.

Senang bertemu denganmu, Albert. Aku Clarisse.

Albert tidak menyangka bahwa dialah yang akan terkejut ketika Clarisse menjawabnya dengan cara komunikasi yang sama. Tidak banyak orang yang bisa bahasa isyarat, malahan sebagian besar orang memandangnya sebelah mata ketika tahu bahwa ia adalah tuna rungu; tatapan yang tidak pernah muncul di mata gadis itu walau sedetik.

Dari kepala panti asuhan, Albert tahu bahwa Clarisse adalah salah satu volunteer di panti itu—seperti dirinya. Ia baru saja kembali dari luar negeri dan senang mengajar sekaligus bermain bersama anak-anak di sana.

Albert bukan tipe orang yang gemar berbasa-basi dengan orang-orang, terutama orang-orang yang baru ditemuinya. Semua orang adalah musuh merupakan prinsip paling utama dalam ajaran yang membesarkannya. Namun Clarisse, pelan-pelan, mendekatinya dengan cara paling hati-hati. Lalu Albert sadar bahwa yang ia inginkan adalah mencari alasan mengapa gadis itu begitu familiar, dan ia pelan-pelan mulai ikut membuka diri.

***

Clarisse yang biasa ceria itu hari ini terlihat murung, ia lebih banyak melamun dan menjawab pertanyaan anak-anak dengan asal saja, terkadang tidak nyambung. Albert memperhatikannya sejak tadi, jadi ia mengajak anak-anak itu bermain sepak bola sehingga Clarisse punya waktu untuk beristirahat sejenak. Namun ternyata ia tidak bisa fokus bermain melihat Clarisse duduk di bangku taman, kehilangan aura bahagia yang bisa menguar darinya.

Kau tidak apa-apa?

Albert mengambil posisi di sebelah Clarisse di bangku taman. Gadis itu memaksakan sebuah senyum.

Ah. Tidak. Aku baik-baik saja.

Kau tidak tampak baik-baik saja.

Clarisse menunduk, seolah beban yang ditanggungnya terlalu berat untuk bisa tetap membuatnya duduk tegak. Ia menghela nafas berat dan panjang.

Aku baru saja menemukan catatan kesehatan Ayahku. Catatan yang selalu disembunyikannya dariku. Ayahku bilang ia baik-baik saja. Dokter pribadinya juga—namun sekarang aku tahu itu semua palsu. Ayahku tidak baik-baik saja. Beliau sakit keras. Komplikasi. Namun Ayahku yang baik itu selalu bersikap bahwa beliau baik-baik saja. Tak pernah mau berhenti bekerja, katanya demi anak tunggalnya ini, padahal beliau sudah memiliki segalanya.”

Suara Clarisse terdengar parau. Dan satu-satunya yang bisa dilakukan Albert hanyalah duduk di sana tanpa melakukan apa-apa.

“Ayahku adalah segalanya bagiku. Namun beliau bisa pergi kapan saja. Aku hanya…” suara gadis itu mulai bergetar, disusul. “aku… hanya… takut sendirian. Aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa Ayah.”

Albert tak punya bayangan sama sekali. Ia hidup tanpa orang tua, dan ia tetap baik-baik saja. Ia tak pernah merasakan kasih sayang dan kehangatan seorang Ayah—ataupun Ibu. Ia dibesarkan oleh atasannya, Tuan Gerald, pembunuh bayaran yang berkobar-kobar seperti api dan membakar segala yang dekat dengannya. Tak pernah ada kata berharga dalam kamusnya.

*

Ini kesempatanku.

Albert mengecek kopernya yang berisi senapan sekali lagi sebelum pergi, memastikan segalanya lengkap. Mata-matanya baru saja mengatakan bahwa Tuan Riley mengunjungi sebuah resital hanya berdua dengan seorang gadis—tanpa pengawalan seperti biasa. Hal yang sangat langka; yang jelas-jelas adalah kesempatan emas bagi Albert. Keberuntungan sedang berpihak padanya.

Tepat ketika Albert akan masuk ke dalam mobilnya, Tuan Gerald menahan.

“Ada satu hal yang perlu kau tahu. Laki-laki itu, ayahmu. Semoga beruntung.”

Albert tercenung sesaat, lalu gelegak-gelegak panas mulai muncul dari dalam dirinya. Jantungnya berdebar kencang, memompa darah gila-gilaan ke seluruh tubuhnya, membawa dendam itu bersamanya.

*

Ada yang salah.

Kehadiran Clarisse di resital itu adalah kesalahan. Terutama jika yang bersama Clarisse adalah orang yang nyawanya sebentar lagi melayang di tangan Albert, dan Clarisse memperlakukan orang itu teramat sopan dan sayang. Bahkan dari jarak lima belas meter, Albert bisa melihat dengan jelas bagaimana mata gadis itu memancarkan kehangatan dan rasa sayang yang berlimpah. Jika Tuan Riley adalah Ayah yang diceritakan Clarisse sambil menitikkan air mata, dan apa yang dikatakan Tuan Gerald adalah kebenaran, maka kehadiran Albert di sinilah yang menjadi kesalahan.

Tuan Riley adalah Ayahnya. Ayah yang membuangnya karena tidak bisa menerima dirinya apa adanya. Ayah yang membuatnya mendendam hingga sekuat ini. Setelah 27 tahun ia akhirnya memiliki kesempatan itu, dan ia tidak akan segan mengotori tangan.

Tapi Clarisse?***

 

Cha

Makassar, 2015

 

Baca juga,

Part 2

Part 3

 

Categories: Fiksi | Tag: | Tinggalkan komentar

Fireworks

c08520a0c3a98a3147663c591c66a0d7

Bahagia itu sederhana. Sesederhana dia bertanya namamu di pelataran parkir yang ramai. Kamu berpikir dia mungkin tertarik padamu dan itu akan terus menjadi pertanyaan jika kamu tidak pernah bertanya. Nyatanya, kamu memang tidak pernah sanggup bertanya.

Sepanjang malam itu, kamu terus memikirkan perkenalan kalian yang terasa begitu manis—padahal sebenarnya biasa saja—dan menunggu pertemuan besok dengan tidak sabar. Kamu ingin segera tidur agar pagi cepat menyapa, namun kamu terlalu bahagia untuk bisa terlelap.

“Ah, aku jatuh cinta,” katamu begitu pada diri sendiri—lalu tersenyum lagi.

Kamu mengagumi denyut indah di setiap detak jantungmu. Kamu bertanya, kapan terakhir kali kamu merasakan hal seperti itu. Lalu kamu memutuskan tidak mengusut lebih jauh ke belakang karena itu berarti kamu harus melibatkan orang lain.

Pertanyaanmu berganti, mengapa kamu tidak ingin melibatkan orang lain itu padahal dia adalah bagian dalam hidupmu? Kamu hanya tidak bisa duduk tidak jauh darinya dan mendengar suaranya langsung. Atau kamu tidak bisa duduk di belakangnya, memandangi punggungnya dari jarak dekat. Dan kamu hanya tidak bisa melihat senyum yang disunggingkan hanya untukmu.

Kamu hanya butuh sosok yang lebih nyata dari sekedar mendengar sapaan seseorang dari corong telepon.

Itu mengapa kamu seolah akan melayang ketika orang itu menyapamu keesokan paginya di depan bangunan berwarna putih itu. Kamu merasakan letup-letup lebih semarak lagi di dalam dadamu. Seperti kembang api.

Iya, bagimu, dia memanglah seperti kembang api yang meledak-ledak indah di langitmu yang kelam. Kamu begitu menganguminya hingga lupa pada segala hal, termasuk kenyataan bahwa kehadiran kembang api itu hanya sesaat.

Kamu tidak sadar bahwa akan selalu ada langit yang bisa kamu pandangi dan kagumi. Meski terkadang gelap dan suram, tapi dia selalu ada. Menunggumu datang, melukisnya dengan imajinasimu dan membuatnya jadi lebih indah.

Pesta kembang apimu akan segera berakhir.***

Sach

Pare, 14 Mei 2013

20:56

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Kamu

Bisa saja di suatu hari, kamu tiba-tiba penasaran dan mencari tahu tentang blog ini. Tempat si penulis banyak bercerita tentangmu.

Lalu kamu menemukan sebuah pengakuan ini; perempuan itu sedang merindu. Kamu.

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

A ‘Good’ Bye

distance

With the passing of a period of time,

(I’ll) be able to see you

being touched once again one day

(A ‘Good’ Bye – Super Junior)

 

Sore itu, ketika kamu berharap bahwa kalian memiliki waktu lebih banyak bersama, dia mengejutkanmu dengan mengatakan bahwa perpisahan itu semakin dekat. Jarak itu seolah melambai-lambai ke arahmu sembari tersenyum sinis. Kamu seketika merasa seperti sedang berada di ruang kelas pengap, guru baru saja mengabarkan bahwa akan diadakan ujian akhir saat itu juga dan kamu tidak punya persiapan apa-apa. Bisakah lulus? Kamu bertanya pada diri sendiri. Namun kamu tidak diberi pilihan selain menjadi siap.

Kamu mencoba percaya bahwa di balik kengerian yang diciptanya, perpisahan menjanjikanmu banyak hal; tentang ruang untuk rindu bertumbuh, tentang khayalan yang akan menyata, tentang pertemuan yang selalu diharap, tentang dia yang akan pulang. Pada sebuah nanti.

Mungkin ini satu bentuk ujian juga. Tidak ada pilihan selain menjadi siap, dan kuat, untuk mampu melihat bahwa sayap-sayapmu memang mampu melebar jauh, jauh, jauh sekali melintas jarak.***

 

Makassar, 25 Desember 2015

Sachakarina

22:22

 

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Beranjak

image

Tak bisa kuteruskan
Dunia kita berbeda
Bila memang ini ujungnya
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
(Isyana Sarasvati – Tetap dalam Jiwa)

Adakah hati yang tak akan beranjak?
Aku berguling ke kiri memandangi tembok putih kamarku dan terus bertanya. Ada sesak di dalam dada ketika aku mempertanyakan hal itu. Bisakah hati tidak beranjak? Terus di sana, terperangkap di tempatnya terjatuh. Lebih sesak lagi ketika aku memikirkan mengapa aku harus mempertanyakan hal ini.

Ia pernah berkata padaku bahwa aku tidak boleh menggantungkan kebahagiaanku kepada orang lain, terutama kepadanya. Alisku mengerut namun aku tidak bertanya mengapa. Ia menyentuhkan telunjuknya di ruang antara kedua alisku hingga kerutan yang terbentuk di situ sirna. Sambil tersenyum, ia berkata, “Kalau aku tidak ada, kamu mau bersedih terus-terusan?”

“Memangnya kamu selalu ada? Aku kok rasanya sering terabaikan kalau kamu terlalu sibuk sama urusan liputan di luar kota, ya,” balasku sembari meneguk teh chamomile-ku, acuh tak acuh.

“Kamu kan tahu alasannya apa sampai aku tidak berkabar. Maksudku bukan itu!”

“Iya, iya, aku tahu.” Aku tertawa. Ia tidak suka jika aku mengungkit-ungkit soal itu, dan aku senang mengerjainya. “Aku selalu bahagia kok, bahkan sebelum ada kamu. Jadi, jangan khawatir.”

“Janji?” Suaranya terdengar menuntut, aku mencari matanya dan ia menantang tatapanku. Ia sama sekali tidak sedang bercanda.

“Apa sih janji-janji segala, memangnya kamu mau ke mana? Ada liputan ke luar kota lagi? Ke pedalaman mana lagi?” Ia hanya terdiam. Berpura-pura tidak mendengar pertanyaanku dengan menyibukkan diri bersama tegukan-tegukan kopi. “Kamu mau ke mana? Memangnya ada yang lebih buruk dari tempat yang tidak punya listrik dan jaringan seluler sama sekali?”

Ia tidak pernah menjawab pertanyaanku, dan tidak akan pernah. Bahkan sekedar mengingat pertanyaan itu lagi masih membuatku takut. ‘Memangnya ada yang lebih buruk dari tempat yang tidak punya listrik dan jaringan seluler sama sekali?’

Ada.

Dalam perspektifku mungkin di sana. Di tempatnya berada sekarang. Tempat yang jauh, jauh, jauh sekali. Atau mungkin di sini, di tempatku. Segala terasa ada namun aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Aku mengerjap, dinding putih di depanku mulai mengabur. Ada rasa sakit yang tak terdeteksi dari mana sumbernya, karena seluruh tubuhku serasa memancarkan rasa sakit itu. Sudah sebulan sejak ia pergi untuk selamanya dan aku masih begini-begini saja; bergelung di ranjangku dan menangis setiap kali ia terlintas di benak. Ia selalu kurindukan, namun ini jenis rindu yang tidak akan pernah usai. Hanya menumpuk dan terus menumpuk tanpa penyelesaian. Mungkin inilah alasan mengapa ada doa, satu-satunya penghubung yang punya cara sendiri untuk meretas rindu yang tak kita tahu bagaimana menyampaikannya.
*

“Kamu yakin mau ke sini, Sally?” Aina, sahabatku bertanya dengan ragu. Ia berdiri dua langkah di belakangku.

“Yakin!” jawabku mantap, menarik Aina mendekat ke pintu kafe. Aku mengerti kekhawatiran Aina. Ia cukup terkejut ketika aku tahu-tahu saja menelepon dan mengajaknya keluar setelah selama ini mengurung diri, lebih terkejut lagi karena aku membawanya ke kafe yang dulunya adalah tempat favoritku dan Giri.

Bukankah Giri memintaku untuk berbahagia? Belakangan ini aku sering bertanya bagaimana defenisi bahagia yang dimaksudkan Giri. Dengan aku tertawa-tawa? Atau mencoba beranjak ke hati lain? Semua itu terdengar tidak masuk akal. Kita tidak mungkin bisa tertawa jika mendapati orang yang teramat kita cintai pergi meninggalkan kita untuk selamanya, lalu beranjak ke hati lain bukanlah hal mudah.

Giri mungkin tidak memintaku untuk tertawa-tawa, atau berpindah ke hati lain. Yang ia inginkan hanyalah agar aku menjadi kuat. Selama kekuatan itu ada, tegar itu meraja, bahagia itu akan ada di genggaman. Aku bisa memulainya dari sini, membiasakan diri di tempat yang menyimpan banyak sekali kenangan antara kami. Jika aku bisa berdamai dengan kenangan-kenanganku, tidak ada lagi yang perlu aku takutkan, bukan? Giri tak perlu khawatir.

Sejauh apapun ia pergi, bahkan jika dunia kami telah berbeda, cinta itu akan selalu ada di hati. Sejauh apapun aku beranjak meninggalkan duka dan menggapai bahagiaku, ia akan tetap ada di dalam jiwa.***

24 September 2015
Sachakarina
22:44

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Desember-Desember

image

When we were dancing in the rain in that december,
And the way you smile at me,
Yes I remember.

(I Remember – Mocca)

Obrolan dua orang yang berjeda itu diisi oleh deru hujan Desember. Debit air yang menerpa mereka bertambah banyak seiring laju motor yang meningkat, menghantam pelan wajah mereka yang tak terlindung. Ada rasa familiar yang ikut terbawa.

Si perempuan berceletuk, katanya sudah dua kali Desember dilewatinya dengan suasana dan orang yang sama pula. Si pria yang sedang melajukan motor cepat-cepat menegaskan dengan berkata iya. Dia tak banyak berkomentar, tapi senyum yang terdengar di ucapannya sudah lebih dari sekedar cukup.

Siapa tahu memang hujan yang terlalu pandai mengorek-ngorek kenangan, atau sebenarnya mereka yang memang tak pernah bisa lupa. Hujan yang dianggap sama. Rute yang sama. Bersama orang yang sama. Mereka berbagi kenangan yang sama.

Kendaraan itu melaju menerabas hujan, menyusuri jejak-jejak cerita dulu yang terus berlanjut menuju tiga, empat, dan banyak Desember yang mereka harap ada.***

Makassar, 15 Desember 2015
Sachakarina
20.30

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Sometimes moodbreaker and everytime moodbooster 😄✌ – with Hiksan at Es Putar Papabon

View on Path

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

A Wish

image

I have a dream I hope will come true
That you’re here with me
and I’m here with you
(Lava – Kuana Torres Kahele, Napua Greig, James Ford Murphy)

“Apa kau pernah menginginkanku?” tanyamu tiba-tiba.

Aku terlongo bingung, ceritaku tentang kegiatan menyusun benang perhelai atau disebut natar sebelum menenun kain Lungi songket Sambas mendadak terpotong. Ini jenis pertanyaan yang tidak pernah aku duga sebelumnya dan cukup membuatku lupa tentang serunya perjalananku ke Kalimantan Timur yang sudah berapi-api ingin kuceritakan kepadamu. Kupikir satu-satunya yang bisa mengalihkan perhatianku hanyalah caramu membicarakan tentang keinginanmu menyusuri pantai-pantai belum tersentuh di Nusa Tenggara yang belum kesampaian. Sadarkah kau jika kau punya pesona tak terbatas dan semangat yang membakar ketika membahas mimpimu sendiri?

Tatapan bingungku masih belum lenyap, sedang tatapan intensmu tidak membuatku lebih baik. “Apa?” suaraku lirih ketika aku bertanya kembali.

“Kau punya banyak mimpi, tapi apakah sekalipun kau tidak pernah memikirkan tentang menginginkanku di hidupmu? Di hari-harimu?”

Aku terdiam, berpikir. Aku banyak berpikir tentang diriku sendiri, tentang menggapai keinginanku, tidak hanya agar aku bahagia tapi juga untuk menunjukkan bahwa inilah aku, jatidiri yang aku bentuk sendiri bukan karena interferensi dari hal-hal lain tapi karena aku memang menginginkannya.

“Umm…,” Aku memikirkan tentang seberapa tahu aku tentang apa yang aku inginkan di dalam hidupku. “aku tidak tahu seberapa sering aku memikirkan ini, tapi sepertinya cukup sering. Aku…”

Aku berhenti, mendadak terpikir mengenai waktu yang tepat. Kuhela napas panjang. 

“aku ingin menjadi aku yang selalu bisa membuatmu jatuh hati.”

Apakah itu cukup sebagai jawaban pertanyaanmu?***

Makassar, 2 September 2015
Sachakarina
20:04

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Fireworks vs Fireflies

image

Cause I’d get a thousand hugs
From ten to thousand lightning bugs
As they tried to teach me how to dance
(Owl City –  Fireflies)

Satu masa ketika dirimu sedang memikirkan tentang betapa sunyinya keadaan, tahu-tahu saja seberkas cahaya mendadak muncul menarik perhatianmu lantas pecah terurai menjadi berkas-berkas warna indah dan letup-letup semarak; di hatimu. Kamu terpukau oleh ledakan-ledakan keindahan yang muncul tiba-tiba. Kembang api memang selalu menghadirkan keindahan dan kebahagiaan, namun hanya untuk sementara. Ia akan hilang secepat kemunculannya yang tiba-tiba, bahkan sebelum kamu sempat menyadarinya, sepi itu telah menguasai hatimu lagi.

Satu masa ketika dirimu merindukan kembang api itu meletup-letup lagi, seberkas cahaya itu muncul. Redup saja, pelan dan tidak terburu-buru. Ia tidak semarak namun menimbulkan rasa aman dan ketenangan lebih dari yang kamu butuhkan. Secara perlahan ia menuntunmu untuk terus berjalan meninggalkan tempatmu menantikan kembang api muncul lagi, menuju sebuah titik di mana kebahagiaan tidak kau lagi gantungkan pada orang lain.  

Because fireflies always will guide you home.***

Makassar, 23 Agustus 2015
Sachakarina
21:31

Categories: Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.