Proof


large

Source: We Heart It

 

“Adry lebih suka sunrise atau sunset?” tanya Acha pada pemuda di hadapannya, setelah memandangi lama riak-riak ombak air laut yang tampak ikut berubah warna karena pantulan sinar matahari sore. Mereka berdua sedang duduk berhadapan di rooftop sebuah kafe yang menyajikan pemandangan matahari terbenam.

“Lebih suka kamu, sih.” Acha merengut mendengar jawaban Adry, namun ia tak bisa menyembunyikan senyumnya.

“Kirain Adry lebih suka tidur,” tukasnya. Bekerja di perusahaan konsultan IT membuat Adry banyak melewatkan malam-malam sibuk berkutat dengan pekerjaan dan merelakan jam tidur bergeser ke waktu yang tidak tentu. Pola tidur yang berantakan itu malah membuat Acha yang jadi sering senewen. “Jadi yang mana? Matahari terbit atau terbenam?”

Adry berpikir sejenak, yang dimanfaatkan Acha untuk meneguk milkshake cokelat miliknya yang belum tersentuh. “Sunset.” Adry akhirnya memberikan jawaban.

Acha menopang pipinya menggunakan telapak tangan, menjatuhkan pandangan pada kaki langit yang dihiasi semburat jingga. “Kenapa kebanyakan orang lebih suka sunset daripada sunrise? Aku tanya Lea dan Alia jawabannya juga sunset,” ujar Acha.

“Kamu sendiri lebih suka yang mana?” tanya Adry.

Acha memalingkan wajah ke arah Adry. “Suka dua-duanya, tapi jarang ketemu sunrise sih.”

“Mungkin itu alasannya orang-orang lebih suka sunset, karena sunset cenderung lebih mudah ditemukan.”

“Tapi yang lebih susah ditemukan pasti lebih berarti,” gumamnya.

Mereka sama-sama terdiam, memandangi matahari yang semakin tertelan cakrawala.

“Padahal kan, sunset itu semacam salam perpisahan, sebuah akhir, sebelum siang menjadi malam,” Acha membuka suara, ada nada sedih yang terdengar dari sana. “Adry suka sunset, berarti nggak masalah dengan setiap perpisahan?”

“Bukannya tidak masalah, tapi mau tidak mau harus dihadapi juga, kan?”

Acha menghela nafas. Angin darat berhembus menyapu rambut cokelat pendeknya hingga menutupi wajah, ia menyingkirkannya menggunakan tangan. Dulu ia begitu menyukai rambut panjangnya, tapi seiring mobilitas yang meningkat dan kegiatan yang kian memadat, ia akhirnya memutuskan memangkas rambutnya pendek hingga sebatas bahu, ia hanya mempertahankan warna dark brown yang tak pernah berubah sejak dulu.

Selepas kuliah, Acha sempat bekerja di sebuah perusahaan periklanan, sebelum banting setir menjadi event organiser yang mengkhususkan pada acara ulang tahun yang digelutinya dengan sungguh-sungguh bersama beberapa teman SMA. Belakangan, ia disibukkan menjadi wedding organizer sahabatnya, Lea, yang akan menikah dua bulan lagi.

“Kalau begitu, aku akan lebih suka sunrise, karena sunrise adalah sebuah salam pertemuan. Setelah malam yang panjang, datang pagi yang dinanti-nanti.”

“Ada juga lho yang nggak berharap pagi datang.”

Acha dengan impulsif mengecek arloji pergelangan tangan kiri lantas terdiam cukup lama. Perhitungan tentang detik-detik kebersamaan yang tersisa menambah resah yang bergolak di dadanya sejak tadi.

“Aku,” gumamnya pelan kemudian. “Aku nggak mau pagi besok datang, makanya aku nggak mau malam ini datang. Maunya diam di sini saja, sama Adry. Sekarang.”

Kenapa suaranya malah bergetar? Cepat-cepat Acha meneguk minumannya.

“Besok pesawatnya pukul enam, transit di Surabaya, meeting, baru ke Semarang.”

Acha menghela nafas panjang, tapi berhasil menahan diri untuk tidak mengeluarkan komentar; terutama mengeluh. Adry sudah pernah bilang, dan ia tidak akan mungkin lupa. Mereka pada akhirnya akan kembali kerutinitas itu lagi, yang dibatasi jarak, ruang, waktu serta kesibukan.

Ia bukan baru kemarin menjalani ini, seharusnya ia sudah terbiasa. Tapi tetap saja, jika saatnya untuk berpisah tiba, ia seolah tak bisa mengontrol perasaannya sendiri—yang sekuat tenaga ditahannya agar tidak diungkapkan ke Adry.

Acha mengambil ponsel di meja yang sengaja diatur pada mode pesawat, mengabadikan moment matahari terbenam yang indah.

“Acha,” panggil Adry pelan. Perempuan itu menoleh, pelan-pelan ia letakkan ponsel kembali ke meja, mengira Adry menegur karena ia telah melanggar kesepakatan dengan memegang ponsel. Adry meremas tangan Acha yang berada di atas meja. “Segala hal kan punya hubungan timbal-balik. Kalau tidak ada perpisahan, tidak akan ada pertemuan, pun sebaliknya. Mungkin bagi kamu sunset berarti perpisahan, tapi coba lihat, sunset juga bisa jadi bukti bahwa akan selalu ada juga sebuah akhir yang indah.” Adry menyunggingkan senyum tulus yang menguatkan.

Kalimat Adry lebih dari cukup untuk meredakan gejolak di benak Acha. Ia balas tersenyum. Adry benar, tidak semua perpisahan berarti kesedihan, dan akan selalu ada harapan tentang sebuah akhir yang bahagia. Mungkin itu yang membuatnya tetap bertahan.

***

Makassar, 12 April 2017

22:05

No Other’s After Story,

Alamanda Carissa Melfia (Acha)

Reki Adriyano Fiza (Adry)

Iklan
Categories: Cerpen | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: